MyLife

Indahnya Kehidupan

Enam Langkah Membuat Status Gizi Balita Meningkat


Jumat, 28 September, 2001 oleh: Siswono
Enam Langkah Membuat Status Gizi Balita Meningkat
Gizi.net - BOGOR—Puslitbang Gizi Departemen Kesehatan menemukan sebuah konsep bagaimana menanggulangi masalah kekurangan gizi pada anak balita. Peneliti Puslitbang Gizi Bogor, Trintrin Tjukani Mkes Selasa lalu menjelaskan, ada enam tahap dalam konsep yang diujicobakan melalui sebuah penelitian di Kabupaten Pandeglang Banten.

Pertama, pengorganisasian masyarakat. Kedua, pelatihan. Ketiga, penimbangan balita. Keempat, penyuluhan gizi. Kelima, pemberian makanan tambahan. Dan keenam, penggalangan dana.

“Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji konsep tersebut. Sehingga diharapkan dapat diperoleh suatu model pemberdayaan masyarakat untuk menanggulangi KEP (Kurang Energi Protein) pada balita. Kemudian bisa diimplementasikan ke daerah lain,” ujarnya dalam Diseminasi Hasil Penelitian Puslitbang Gizi di Bogor.

Uji coba dilakukan di enam desa di tiga kecamatan. Masing-masing desa diwakili oleh satu posyandu sebagai lokasi penelitian. Sedang sampel diambil tokoh masyarakat yang menjadi pengurus pengentasan KEP, anaka balita yang menderita KEP, dan ibu balita yang menderita KEP.

Mula-mula, sesuai dengan tahapan dalam konsep, dibentuklah organisasi pengurus pengentasan KEP pada balita di enam desa tersebut. Pengurus ini di masing-masing desa terdiri dari lima orang yang mewakili beberapa unsur dalam masyarakat. Mulai dari tokoh agama sampai pamong desa. Dalam pelaksanaan selanjutnya pengurus yang aktif akan bertambah sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan.

Kemudian dilakukan pelatihan kepada para pengurus tersebut. Pelatihan itu meliputi pengetahuan gizi, penyuluhan gizi, penyelenggaraan PMT (pemberian makanan tambahan), dan bagaimana cara menggalang dana untuk pengadaan PMT ini.

Agar efisien, pelatihan dilakukan serentak untuk enam desa, dilaksanakan di kota kabupaten dengan melibatkan bidan desa serta tenaga pelaksana gizi. Tidak lupa para peserta pelatihan diberi buku panduan.

Selanjutnya, setelah para pengurus ini terjun ke lapangan, dilakukanlah evaluasi hasil. Caranya dengan menimbang anak balita secara berkesinambungan setiap bulan selama tiga bulan. Pada awal penelitian ditemukan 87 anak balita yang menderita KEP. Kemudian semua anak balita yang menjadi sampel penelitian ini diberi makanan tambahan setiap hari selama tiga bulan.

Makanan tambahan dibuat oleh pengurus secara bergantian dan diberikan kepada anak dengan cara diambil dan dimakan di rumah kader. Bila ada balita tidak datang, makanan tersebut diantar ke rumah balita yang bersangkutan oleh kader. Makanan tambahan tersebut bisa berupa bubur, kolak atau nasi dengan lauk-pauk, atau kue-kue. Yang penting asupan energi dan proteinnya per porsi mencapai 300 sampai 400 kalori dan 3,5 sampai 10 gram protein.

Pelaksanaannya sendiri bervariasi. Ada desa yang bisa menyelenggarakan 10 hari berturut-turut dan dilanjutkan dengan tiga hari sekali. Ada juga yang menyelenggarakan dua hari sekali. Sedang yang lain, dua kali seminggu dan sekali seminggu.

Ketika pemberian makanan tambahan dilakukan, pengurus harus memberikan pula penyuluhan gizi kepada ibu balita. Ini agar ada kesinambungan setelah program selesai.

Soal dana, di bulan pertama disediakan oleh lembaga penelitian. Besarnya Rp 1.000 per anak per hari. Lalu pada bulan kedua, setelah mereka diberi pengetahuan bagaimana cara menggalang dana sendiri, mereka dilepaskan. Cara menggalang dana bisa lewat posyandu, majelis ta’lim, atau ada donatur desa. Dari enam desa yang diteliti, kata Trintrin, lima desa ternyata sudah bisa memberikan PMT secara swadaya pada bulan kedua dan ketiga.

Dari penelitian ini, kata Trintrin, disimpulkan bahwa konsep ini bisa meningkatkan status gizi balita dengan tingkat keberhasilan 50 persen, bahkan lebih. Buktinya, lanjut Trintrin, pada awal penelitian ada 90,6 persen anak dengan status gizi kurang dan 9,4 persen dengan status gizi buruk. Pada akhir penelitian tidak ada lagi anak balita dengan status gizi buruk. Sedang balita dengan status gizi kurang turun menjadi 45,3 persen.*mal

Sumber : Republika, Kamis, 27 September 2001

Wink Kenalin 10 macam penyakit pada balita anda:D
Menjadi orang tua baru tentu membahagiakan. Namun, kebahagiaan terkadang berubah menjadi kepanikan tatkala si kecil mendadak sakit. Nah, ada baiknya Anda mengenali 10 penyakit pertama bayi, seperti hasil wawancara yang dipaparkan oleh Dr. Kusnandi Rusmil, Sp.A , Dr. Winadi Gandawijaja Sp.A dari RS Hasan Sadikin, Bandung dan RS Husada , Jakarta sebagai berikut ini.

1. BATUK-PILEK
Batuk-pilek pada bayi bisa karena banyak faktor. “Sebagian besar penyebabnya virus, yang jenisnya ada ratusan banyaknya. Biasanya sembuh sendiri, kok. Gejalanya, hidung berair, kadang tersumbat, lalu diikuti batuk dan demam.”

Selain virus, batuk-pilek juga bisa karena bakteri. Biasanya disertai panas dan gejalanya lebih berat, yaitu tenggorokan berwarna merah. Harus diberi antibiotik. Jika terus berlanjut, bisa berakibat komplikasi radang telinga tengah. “Namun, sakit telinga tak selalu terjadi pada batuk pilek.”

Jika cairan atau lendir banyak keluar dari hidung bayi dan membuat napas tersumbat, beri obat tetes hidung atau sedot cairan hidung dengan alat khusus. “Yang penting, penyebabnya dulu yang diobati. Karena virus belum ada obatnya, maka pertahanan tubuh si bayi-lah yang harus ditingkatkan.”

Biasanya, batuk-pilek pada bayi terjadi sekitar lima hari. Jika panas tubuh bayi tak turun-turun hingga 2 - 3 hari, segera bawa ke dokter. “Orang tua tak perlu cemas jika bayi batuk-pilek. Jika disertai panas, beri obat panas. Jangan lupa, beri nutrisi yang baik, terutama yang mengandung vitamin dan mineral, seperti buah-buahan atau jus, minum yang banyak, terutama ASI.”

2. INFEKSI TELINGA
Infeksi telinga dapat disebabkan batuk-pilek oleh virus yang terus-menerus, sehingga virus masuk ke dalam saluran telinga. “Bisa juga karena telinga kemasukan air yang mengandung kuman, sehingga mengakibatkan peradangan saluran telinga tengah.”

Gejalanya, sakit pada telinga dan panas yang tidak turun-turun selama 2 - 3 hari. “Harus segera dibawa ke dokter. Kalau tidak segera ditangani, gendang telinga bayi bisa meradang dan pecah.”

Jika tak diobati, lama-lama radang telinga akan makin parah dan dapat menimbulkan nanah. “Jika nanah pecah, cairan itu akan keluar dari telinga dengan bau yang tidak enak. Efek jangka panjangnya, sistem pendengaran rusak.”

3. DIARE
Seperti halnya batuk-pilek, diare pada bayi juga bisa karena bermacam faktor, dari makanan yang tercemar kuman atau virus, keracunan makanan, sampai alergi susu. Diare pada bayi umumnya dapat dilihat dari jumlah cairan yang keluar melalui buang air besar (BAB) yang lebih banyak dari cairan yang masuk. Frekuensi BAB-nya lebih dari tiga kali sehari. Jadi, harus diberi banyak cairan supaya tidak terjadi dehidrasi.

Pencegahannya, beri bayi minum, misalnya oralit, minuman yang mengandung ion, atau minuman yang mengandung probiotik, seperti yoghurt untuk membantu keseimbangan kuman dalam perut. “Bayi enam bulan sudah boleh, kok, diberi minuman mengandung ion atau probiotik.”

Kusnandi juga menegaskan, obat diare yang paling ampuh bagi bayi sebenarnya ASI, karena mengandung obat anti-virus atau kuman yang dapat mencegah dan mengurangi lamanya penyakit bersarang di dalam tubuh bayi.

Diare yang disertai demam, lanjut Kusnandi, paling sering disebabkan oleh virus. “Semua penyakit karena virus, tidak ada obatnya. Yang penting, meningkatkan daya tahan tubuh dan mengatasi kehilangan cairan tubuh dengan banyak-banyak minum, terutama ASI.”

Sementara diare disertai muntah, biasanya disebabkan karena rangsangan ke dalam saluran pencernaan. “Rangsangan itu bisa macam-macam, bisa oleh kuman atau racun zat kimia. Sekali lagi, yang penting adalah memberi minum yang banyak. Bisa juga diberi obat anti muntah oleh dokter,” kata Kusnandi seraya mengingatkan agar orang tua tidak memberi bayi obat pemampat feses atau tinja. “Jika tinja mampat, kuman enggak mati, malah berkumpul di dalam usus. Lebih baik kuman dikeluarkan dulu melalui BAB. Setelah kuman habis, otomatis diare akan berhenti dengan sendirinya,” kata Kusnandi mengingatkan.

4. BATUK PLUS SESAK NAPAS
Pada bayi yang memiliki potensi alergi atau asma, batuk pilek lama-lama bisa menimbulkan sesak napas. “Batuk-pilek ini terjadi akibat kuman yang lama-lama menyebar ke paru-paru. Bisa mengakibatkan gejala radang paru-paru, yaitu sesak napas,” ujar Kusnandi.

Jika sudah menyerang paru-paru, berarti sudah masuk ke tahap serius dan harus betul-betul diobati. “Tanda-tanda sesak napas ini dapat dilihat secara fisik, antara lain bayi bernapas lewat hidung, sehingga cuping hidung kembang-kempis, napasnya cepat, setiap bernapas seperti ada yang menariknya hingga dadanya cekung.”

Penanganan gejala-gejala serius ini harus lebih teliti. Bila perlu dirawat di RS untuk diberi oksigen. “Jika sudah sampai ke tahap serius, tak bisa lagi hanya diberi perawatan di rumah. Bisa bahaya dan harus segera ditolong dokter,” tegas Kusnandi.

5. SAKIT TENGGOROKAN
Sakit tenggorokan pada bayi bisa karena kuman atau virus yang menyerang tenggorokan. “Tanda-tanda fisiknya, tenggorokan berwarna merah, yang dapat terlihat di bagian leher. Bayi juga terlihat seperti kesakitan, rewel, dan biasanya sulit menelan.”

Jika disebabkan virus, biasanya dokter akan memberi obat pengurang rasa sakit, vitamin, dan dianjurkan diberi makan yang banyak, terutama jus buah, sayur bening, dan ASI, agar tubuhnya kembali kuat. Namun jika penyebabnya kuman, dokter akan memberi antibiotik. “Bisa berupa sirup atau puyer. Puyer lebih ekonomis dan dosisnya bisa lebih tepat, karena dihitung per kilogram berat badan bayi. Efektivitasnya, sih, sebenarnya sama saja dengan sirup.”

6. SEMBELIT
Penyebab sembelit bisa karena kurang makan makanan berserat. Oleh karena itu, bayi sebaiknya diberi banyak buah, sayuran, dan ASI. “Berikan puding atau agar-agar, buah-buahan, dan sayuran. Untuk bayi yang belum bisa makan, berilah ASI sebanyak mungkin. Biasanya, bayi yang masih minum ASI jarang sembelit, kecuali bayi yang diberi susu formula. Mungkin susunya kurang cocok.”

Untuk mengatasi sembelit, pilih susu yang cocok. “Sementara dokter biasanya akan memberi obat untuk melancarkan BAB-nya.” Namun, ada juga bayi baru lahir yang tak bisa buang air besar. “Keluhannya, perut kembung dan sering muntah. Itu karena saraf dari usus kurang, sehingga gerak peristaltiknya pun berkurang. Ini penyakit bawaan, harus dioperasi untuk membuang usus yang tidak ada sarafnya. Kasus seperti ini sering terjadi pada bayi baru lahir,” terang Kusnandi.

7. INFEKSI SALURAN KEMIH
Selain sulit BAB, infeksi saluran kemih juga sering terjadi pada bayi yang baru lahir. “Banyak terjadi pada bayi perempuan, karena saluran kemih perempuan lebih pendek dari saluran kemih bayi laki-laki, sehingga kuman lebih gampang masuk ke dalam tubuh. Jika bayi panas tanpa diserta batuk-pilek atau sakit telinga, orang tua harus selalu berpikir bahwa ini bisa saja sakit radang saluran kemih.”

Gejala infeksi saluran kemih hanya panas atau air kencingnya sedikit, dan bayi merasa nyeri di daerah perut atau kesakitan saat buang air kecil/kencing. “Kadang-kadang, radang atau infeksi saluran kemih ini tidak bergejala juga. Buang airnya pun normal. Justru jika gejala tak muncul, sangat berbahaya karena dapat merusak ginjal.” Oleh karena itu, jika bayi demam lebih dari 38,5 0 Celcius, segera periksakan ke dokter.

8. MUNTAH
Muntah atau gumoh disebabkan karena perut bayi yang baru lahir ukurannya masih sangat kecil. “Daya tampungnya masih sedikit. Kalau terlalu banyak diberi susu, dia akan memuntahkan susunya kembali.”

Oleh karena itu, untuk bayi yang diberi susu formula, pada saat disusui, posisi botol susu dan botol harus pas dengan mulutnya agar udara tidak ikut masuk ke dalam mulut bayi. Udara yang ikut masuk ini dapat menyebabkan bayi muntah. Sementara untuk bayi yang disusui ASI, posisi menyusui harus betul dan pas. Usai disusui, gendong bayi dengan posisi seperti berdiri hingga bersendawa. Setelah itu bayi ditidurkan dengan posisi miring ke kiri.

9. ALERGI
Banyak hal yang dapat menyebabkan alergi pada bayi. “Yang paling sering alergi susu sapi atau susu formula. Jika ibu atau keluarganya punya bakat alergi, bayi pun jadi gampang alergi. Sebagian besar alergi timbul karena makan telur, sea food, dan susu formula.”

Untuk menghindarinya, ibu menyusui sebaiknya menghindari konsumsi makanan alergen seperti telur, kacang-kacangan, sea food, atau makanan pemicu alergi. “Pasalnya, alergi ini dapat langusng terbawa melalui ASI. Dokter biasanya memberikan susu anti-alergi khusus untuk bayi yang memiliki bakat alergi atau alergi pada susu formula. Susu antialergi ini mudah didapat dan sudah banyak dijual, kok.”

10. RUAM POPOK
Usai buang air atau pipis, popok bayi harus segera diganti agar tidak menimbulkan iritasi atau merah-merah pada kulit bayi. Jika kulit bayi mengalami iritasi, kuman akan lebih mudah masuk ke dalam tubuh bayi. Untuk mencegahnya, gantilah popok sesering mungkin dan pakaikan pampers yang dapat menyerap banyak air.

Untuk popok kain, sebaiknya rajin-rajin mencuci popok. “Teknologi sudah semakin canggih, orang kini menciptakan pampers yang dapat menyerap air lebih banyak agar lebih praktis. Namun, bukan berarti bayi harus seharian pakai pampers yang itu-itu terus. Udara juga harus bisa keluar masuk, dong. Hanya saja, kelebihan pampers dapat mengurangi frekuensi pergantian popok, dibandingkan popok kain.”

Pengobatan untuk ruam popok, jika kulit bayi terkena popok basah, dapat diobati dengan memberikan bedak, talek, atau salep. “Tetapi yang paling penting harus sesering mungkin mengganti popok atau pampers. Artinya, kondisi kulit bayi harus tetap dalam keadaan kering.”

WASPADA BILA …
Selain 10 penyakit di atas, ada beberapa tanda pada bayi yang harus diwaspadai dan segera dibawa ke RS, antara lain:

1. Kejang
Jika bayi kejang disertai panas atau tanpa panas, harus segera di bawa ke RS untuk mengetahui penyebab kejangnya. Setiap kejang, akan mengakibatkan terjadinya kerusakan otak, sehingga bayi tidak boleh kejang. Jadi, secepatnya harus diatasi. Jika bayinya kejang disertai demam, orang tua harus selalu membawa obat anti panas dan anti kejang. Karena biasanya sakit kejang ini suka kambuh. Kemana pun si bayi pergi, harus selalu membawa obat anti kejang untuk mencegah kejang. Jangan sampai bayi sering kejang.

Pemicu kejang ini macam-macam, bisa karena proses di kepala atau otak, atau di luar kepala. Kalau di dalam otak atau kepala, kemungkinan ada infeksi di otak atau tumor di otak, dan perdarahan di otak. Tapi yang terjadi di luar otak, bisa karena kekurangan natrium atau garam dan gula, sehingga terjadi gangguan-gangguan elektrolit. Misalnya karena sering diare, atau kejang karena adanya elektrolit atau garam yang keluar dari tubuh.

2. Sesak napas
Jangan sampai bayi Anda sesak napas, apalagi sampai membiru. Itu tandanya si bayi sudah kekurangan oksigen. Oksigen itu terutama dialirkan ke dalam otak dan organ lainnya. Jika bayi Anda sesak napas, secepatnya harus diatasi, apakah sesak itu disebabkan karena sumbatan saluran napas, atau karena infeksi di paru-paru, harus segera diatasi dan dibawa ke dokter.

3. Syok
Tanda-tandanya, denyut nadi tak teraba, muncul keringat dingin, kesadaran berkurang, serta jumlah cairan tubuh berkurang. Penyebab syok pada bayi bermacam-macam juga. Dapat dikarenakan kehilangan cairan tubuh, misalnya demam berdarah, yang mengakibatkan cairan dari dalam darah melalui pembuluh darah keluar menuju jaringan. Bisa juga karena diare dan kekurangan cairan, terjadinya perdarahan, kelainan jantung, atau karena syok lain yang disebabkan karena kesakitan yang biasa dokter sebut dengan neorogenik shock. Perawatannya, harus harus segera diinfus.

4. Tak sadarkan diri
Ini dapat terjadi karena adanya gangguan kesadaran. Setiap ada gangguan kesadaran pada bayi, orang tua harus hati-hati dan harus segera membawanya ke dokter. Ciri-ciri bayi yang tak sadarkan diri, secara fisik dapat terlihat seperti mula-mula setengah sadar, mengacau, panas tinggi, atau mungkin saja langusng tidak sadar. Di cubit pun, tak akan merasakan sakit dan tak tahu apa yang terjadi disekelilingnya.

semoga bermanfaat

kalo suka dengan infonya boleh deh di bagi cendol ijo nya atau kalo blom bisa ngasi cendol cukup pencet tombol thanks

PENDIDIKAN
Reformasi dalam Kegiatan Pembelajaran Agama

Rosidah, A.Ma. *)

BERDASAR pada UUD 1945, tujuan pendidikan nasional untuk menjadikan manusia beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Sebagai salah satu realisasinya, setiap mata pelajaran yang diberikan kepada anak didik diharapkan mampu mendukung terciptanya tujuan tersebut di setiap mata pelajaran dengan karakter yang khas.

Di sini seorang guru dituntut mampu mengajar di sekolah dengan memanfaatkan setiap mata pelajaran yang diberikan kepada siswa. Selain itu mengarahkan siswa kepada penekanan keyakinan dan kebenaran ajaran agama serta mengamalkan ajaran agama secara ikhlas dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, menjadikan ajaran agama sebagai basic reference seluruh kegiatan pendidikan, diharapkan setiap satuan pendidikan memberikan kontribusinya bagi pengembangan kehidupan masyarakat yang lebih agamais dan bermoral. Ini pun akan menghilangkan kesan ambivalensi antara pendidikan agama dan ilmu pengetahuan yang lain.

Untuk mendukung tujuan Pendidikan Nasional tersebut, pemerintah telah mengeluarkan UUD No. 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pada Pasal 55 masyarakat diberi kesempatan menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat. Jadi penyelenggaraan satuan pendidikan seperti pendidikan umum, misalnya SD, SMP, SMA dapat memberikan corak keagamaan pada semua kegiatan pendidikannya. Apalagi sekolah yang memiliki latar belakang kesejarahan dan keyakinan dari ajaran agama Islam yang dianutnya seperti madrasah dan pondok pesantren.

Madrasah yang merupakan salah satu satuan pendidikan diharuskan mampu menciptakan suasana keagamaan dengan menjalankan sikap dan perilaku yang mencerminkan ajaran agama baik hubungannya dengan Sang Khalik, maupun antarsesama manusia dan lingkungannya.

Jika di sekolah sudah diajarkan agar menciptakan kehidupan yang agamais, diharapkan kebijakan-kebijakan yang adapun seharusnya mendukung. Akan tetapi, faktanya sampai sekarang masih ada ketidakkonsistenan antara visi dan misi madrasah yang merupakan sekolah umum bercirikan khas agama Islam dengan kebijakan-kebijakan yang terkadang sangat jauh dari visi dan misi serta tujuan pendirian madrasah.

Sebagai contoh siswa sudah diajarkan tentang wajibnya menutup aurat bagi seorang wanita. Lalu guru juga sudah menganjurkan siswanya merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, ketika akhir tahun pelajaran siswa tersebut akan mengikuti ujian nasional dan ujian akhir sekolah (UN dan UAS), para guru dibuat bingung lagi dengan keluarnya kebijakan bahwa pas foto peserta UN/UAS harus terlihat telinganya dan mencopot jilbabnya.

Padahal di sekolah-sekolah umum, baik SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi sudah tidak mempermasalahkan hal itu. Kita bisa lihat dan saksikan dengan mudah banyak anak-anak saleh yang komitmen yang berjilbab, menjadi sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas hingga diterima menjadi PNS atau bekerja di sebuah perusahaan ternama.

Kalau Departemen Agama (Depag) mengeluarkan aturan foto untuk ijazah, madrasah ibtidaiah (MI), madrasah tsanawiah (MTs), madrasah aliah (MA) atau perguruan tinggi agama Islam (PTAI) bagi wanita harus mencopot jilbabnya, itu pertanda atau cerminan bahwa Depag tidak konsisten terhadap pendidikan agama. Logo "Ikhlas Beramal" Depag ternyata hanya slogan tanpa makna, korupsi, kolusi, ternyata justru banyak terjadi di sana.

Hambatan dakwah ternyata justru datang dari umat Islam sendiri. Banyak kebijakan dan contoh yang kurang mendukung dalam melaksanakan syiar dan ajaran agama, sebagai implementasi terhadap tujuan pendidikan nasional, yakni membentuk insan yang beriman dan bertakwa.

Di satu sisi diajarkan untuk taat. Di sisi lain institusi yang harusnya jadi contoh justru melanggarnya atau meninggalkannya tanpa alasan yang syar'i. Di mana letak kesigohan/komitmen dalam mengamalkan agama.

Harus ada reformasi kebijakan dan keteladanan dalam pembelajaran agama Islam. Komitmen dan keteladanan adalah kata kunci untuk membentuk SDM yang berkualitas dan bermoral. Jika tidak, akan muncul perilaku sesat dan menyimpang, banyak "badut" agama gentayangan.

Agama hanya sekadar pengetahuan (kognitif) tanpa ruh dan amal. Banyak, bisa dilihat pengetahuan agama luar biasa tapi nol amalnya.

Selain itu dalam pembelajaran yang harus kontekstual dengan metode ilmiah, pendekatan lingkungan dapat dikembangkan hampir di semua mata pelajaran. Rasa ingin tahu siswa akan tersalurkan dengan benar karena lingkungan di sekitarnya bisa diteladani.

Dengan demikian, perilaku sesat, menyimpang tidak mungkin akan ada. Pada akhirnya generasi yang berkualitas, berakhlak, dan bermoral akan terwujud seperti yang diisyaratkan dalam tujuan pendidikan nasional. Wallahualam bissawab.

*) Penulis Guru MIN Rajabasa, Lampung Selatan/Biro Pendidikan dan Dakwah Salimah Lampung Selatan

Pembelajaran Pendidikan Agama Yang Membentuk Kepribadian
Monday, 23 March 2009 01:29 Suhartono, S.Pd. Kepala Sekretariat
E-mail Print PDF

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 dinyatakan bahwa “Negara berdasar pada Ketuhanan Yang maha Esa.” Pasal ini menegaskan bahwa Negara Republik Indonesia didasarkan pada adanya konsep ketuhanan. Konsep yang menandaskan bahwa seluruh aktivitas Negara tidak akan keluar dari pemahaman terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam tataran yang lebih derivatif, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 Bab II Dasar, Fungsi, dan Tujuan Pasal 3 dinyatakan bahwa “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam pasal tersebut setidaknya jelas terungkap bahwa fungsi pendidikan nasional diadakan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Fungsi pencerdasan kehidupan bangsa dilaksanakan melalui pengembangan kemampuan peserta didik dan pembentukan watak. Bila dikaitkan dengan tujuan pendidikan nasional tersebut, watak yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1.

Manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2.

Manusia Indonesia yang berakhlak mulia
3.

Manusia Indonesia yang sehat
4.

Manusia Indonesia yang berilmu
5.

Manusia Indonesia yang cakap
6.

Manusia Indonesia yang kreatif
7.

Manusia Indonesia yang mandiri
8.

Manusia Indonesia yang demokratis, dan
9.

Manusia Indonesia yang bertanggung jawab

Pembentukan watak atau kepribadian untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dilaksanakan melalui apa yang dinamakan satuan pendidikan yang meliputi pendidikan formal, nonformal, dan informal. Seluruhnya diperlukan sinergis antara jenis pendidikan tersebut dengan berbagai elemen stakeholder pendidikan agar berhasil pendidikan nasional yang diharapkan. Misalnya, bagaimana keluarga dan lingkungan memainkan peran pokok dalam pendidikan watak putra-putrinya sehingga mampu tampil sebagai peserta didik yang berkembang potensinya secara positif. Pendidikan nonformal pada masyarakat juga demikian, bagaimana masyarakat menjadi laboratorium hidup bagi penerapan potensi peserta didik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Yang tak kalah strategis juga adalah bagaimana pendidikan formal yang terstruktur dan berjenjang mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi memberikan kontribusi nyata dan prospek terhadap kemampuan peserta didiknya menjawab tantangan masa depan dengan basis watak diri yang positif menurut undang-undang di atas.

Peserta didik yang barhasil dalam menempuh jenjang pendidikannya bukan semata ditentukan dengan kepemilikan intelektualitas tertentu. Namun, yang jauh lebih penting adalah kepemilikan watak atau kepribadian yang kokoh. Bukankah pendidikan itu secara esensinya adalah membentuk manusia IndonesiaPandai adalah salah satu pilar dari karateristik tersebut yakni berilmu. Sementara 8 karakteristik lain memerlukan aspek-aspek penilaian pendidikan yang berintegrasi antara kognitif, afektif, dan psikomotor. seutuhnya ? Jadi bukan sekadar pandai namun berwatak sembilan karakteristik menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.

Salah satu bentuk dari satuan pendidikan formal adalah sekolah. Sekolah merupakan institusi yang sangat penting dalam mewujudkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Bagaimana kesanggupan sekolah melaksanakan perannya ini sangat bergantung pada idealisme pendidikan para pemangku kepentingan (stakeholder) yang ada di dalamnya. Kepala sekolah adalah sosok vital dalam memimpin sekolah menjadi skeolah yang efektik dan bermutu. Sejauh mana peran ini dilaksanakan. Para guru sebagai tenaga pendidik sejauhmana melaksanakan tugas-tugasnya dalam membekali peserta didik. Begitu juga dengan komponen lain seperti orang tua murid, komite sekolah, tenaga nonkependidikan, masyarakat sekitar, dan komponen siswa itu sendiri.

Tentu saja, untuk membahas peran stakholder pendidikan dalam membentuk watak atau kepribadian peserta didik amatlah luas. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibatasi penulisannya pada peran pembelajaran pendidikan Agama dalam membentuk watak peserta didik.

Kasus-kasus Penyimpangan Perilaku Peserta Didik

Ada begitu banyak penyimpangan perilaku yang dilakukan peserta didik dewasa ini. Penyimpangan perilaku ini sudah mengarah pada tindak kriminalitas jika tidak segera diantisipasi oleh semua pihak. Tindakan aborsi sebagai akibat pergaulan yang tanpa batas pada data Sabili, Maret 2000, data dari Perkumpulan Keluarga Besar Indonesia, dalam 2 tahun terakhir wanita aborsi 2 juta, di antaranya 750 ribu adalah remaja yang belum nikah. Terkait narkoba, 1-2 % orang Indonesia adalah pengguna narkoba (Republika, 25/10-99), tiap bulan sekitar 4.000 pasien baru masuk ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat (Republika, 22-9-99). Bahkan terakhir pada Maret 2007 dalam salah satu berita di stasiun televisi nasional di sebuah SMA di Jakarta, Kepala Sekolah mengadakan razia. Diketahui bahwa ada 4 siswa yang tengah hamil. Na’udzubillah.

Pada sisi lain, tindakan-tindakan yang ringan yang juga bagian dari ketidakpatutan dilakukan oleh peserta didik seperti mencontek, membolos, tidak mengerjakan tugas atau latihan, tidak menghormati guru, atau tindakan lainnya. Tindakan-tindakan tersebut sebenarnya merupakan bagian yang harus diperbaiki mengingat watak terbentuk dari pemahaman dan penyikapan terhadap hal-hal yang baik atau yang buruk untuk persiapannya menjalani kehidupan pada masa mendatang.

Ancaman Budaya Pop Remaja

Pada masa kini ada begitu banyak ancaman yang menghantui para pelajar yang notabene adalah remaja. Sayangnya tidak sedikit remaja yang tidak menyadari dibalik keterlibatan mereka dalam budaya pop remaja. Ancaman budaya pop remaja itu seperti disebutkan O. Sholihin dalam Jangan Jadi Bebek Budaya Pop Remaja itu meliputi : 1) jangan tertipu gemerlap valentine day’s, 2) playstation-mania, 3) ketika musik gaya hidup, 4) remaja mengintip pornografi, 5) kekerasan ala smack down, 6) striptease gaya pall mall, 7) “Shincan” lucu atau porno. Bahkan beberapa perilaku yang sedang gandrung dilakukan di kalangan pelajar seperti : 1) menikmati narkoba, 2) “generasi” preman, 3) balada kembang jalanan yakni menjadi wanita pekerja seks, 4) aborsi : akibat bebas gaul yang telah menunjukkan angka yang sangat mengkhawatirkan, 5) AIDS dan kehidupan seks, remaja, 6) pacaran dengan bergandeng tangan anak-anak mahasiswa, siswa SMA, hingga SMP, dan 7) generasi remaja handphone yang makin memanjakan penggunanya.

Peran Guru dalam Pembelajaran Agama

Pembelajaran Agama adalah salah satu kelompok mata pelajaran yang wajib diberikan. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Dengan melihat tujuan pembelajaran agama tersebut, tampak jelaslah bagaimana seharusnya pembelajaran agama ini berperan. Memang tugas membentuk peserta didik tersebut bukan sekadar tanggung jawab guru agama di sekolah, melainkan seluruh guru memiliki peran yang sama pentingnya. Namun demikian, melalui pembelajaran agamalah yang lebih dekat dan mempunyai peran yang strategis.

Jika ditelusuri lebih dalam, setiap peserta didik sebenarnya telah memperoleh pembelajaran agama sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan hingga Perguruan Tinggi ada mata kuliah dasar umum berupa pendidikan agama. Akan tetapi, dampak atau pengaruh dari pembelajaran agama ini belum mampu menumbuhkan imunitas para peserta didik menghadapi tantangan dan ancaman yang ada. Bagaimana agar melalui pembelajaran agama tumbuh watak peserta didik sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SPN) sehingga mampu melahirkan peserta didik yang imun atau kebal terhadap berbagai kemungkinan melakukan tindakan destruktif?

Pembelajaran dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning

Sering kali para guru agama mengeluhkan kurangnya jam agama dalam menyelesaikan materi kurikulum yang ditentukan. Yang terjadi kemudian adalah pembelajaran agama berusaha untuk menyuguhkan materi pembelajaran agar tuntas materinya sehingga tampak suguhan kognitif jauh lebih banyak mewarnai KBM agama. Mereka kemudian menginginkan penambahan jam pembelajaran agar lebih leluasa menyampaikan materi.

Sebenarnya seberapa banyak pun jam pembelajaran agama ditambah tidak akan menyelesaikan persoalan yang ada jika tidak dilakukan revitalisasi pembelajaran agama. Pembelajaran agama memerlukan suatu terobosan pendekatan pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang mempu menumbuhkan kebermaknaan dan menyenangkan. Bukan yang selama ini dilekatkan atribut pada pembelajaran agama : menjenuhkan dan tidak inovatif.

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa seorang pembelajara, peserta didik, akan mau dan mampu menyerap materi pelajaran jika mereka dapat menangkap makna dari pelajaran tersebut. Dalam buku Contextual Teaching and Learning : Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna karya Elaine B. Jhonson yang diterjemahkan oleh Ibnu Setiawan, disebutkan bahwa ” CTL adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. CTL adalah suatu sistem pelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.” (2006: 58)

Para guru agama perlu memahami filosofi CTL ini dan menerapkannya dalam KBM di kelas agar agama tidak menjadi pelajaran ”menghafal” ”dogmatis” tanpa bersentuhan dengan konteks kehidupan siswa dan kebermaknaannya. Dalam pelajaran agama, anak memperoleh pengetahuan bahwa Allah SWT mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk menjadikan kehidupannya sebagai ibadah kepada Allah SWT. Inilah tujuan penciptaan kehadiran manusia di dunia. Apakah tujuan ini dimaknai secara benar oleh siswa? Atau sekadar menghafal ayat bahwa hal itu ditemui dalam Al Quran Surat Adzariyat : 56?.

Para guru agama –dalam penerapan CTL- diharuskan menghadirkan konteks pembelajaran, bukan sekadar isi pelajaran. Isi pelajaran merupakan sesuatu yang akan diperlajari berupa pengetahuan yang hampir tanpa batas dan semua guru agama mengetahui akan hal ini. Isi agar bermakna harus dipelajari dalam konteks. Adapun konteks dalam pemahaman CTL meliputi :

1. Lingkungan yaitu dunia luar yang dikomunikasikan melalui pancaindera

2. Kejadian-kejadian atau peristiwa yang terjadi di suatu tempat dan waktu

3. Asumsi-asumsi bawah sadar yang diserap selama siswa tumbuh, dari keyakinan yang dipegang kuat siswa yang diperoleh melalui nilai-nilai yang diterimanya

Pembelajaran isi agama agar relevan hendaknya memperhatikan keselarasan konteksnya. Ketika guru menyampaikan materi tentang beriman kepada Allah SWT, guru hendaknya mengajak siswa pada peristiwa kehidupan yang dapat diungkap oleh siswa, kejadian-kejadian yang menimpa manusia yang tidak beriman, dan kesadaran terhadap firman Allah yang ditulis dalam kitab suci-Nya. Jadi, guru tidak secara dogmatis menyampaikan ayat-ayat yang memerintahkan untuk beriman kepada Allah SWT. Adanya kesadaran setiap siswa untuk selalu beriman kepada Allah SWT hendaknya muncul dari siswa melalui serangkaian pengalaman belajarnya di kelas atau di luar kelas. Dengan begitu Insya Allah akan muncul kesadaran bahwa Allah mengawasinya, Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap perbuatannya, dan seterusnya.

Agar guru selalu memelihara KBM-nya dalam genggaman CTL, guru perlu memastikan 8 prinsip CTL hadir dalam setiap KBM-nya, sebagaimana diungkap Elaine (2006: 65-66):

1. membuat ketrkaitan-keterkaitan yang bermakna

2. melakukan pekerjaan yang berarti

3. melakukan pembelajaran yang diatur sendiri

4. bekerja sama

5. berpikir kritis dan kreatif

6. membantu individu untuk tumbuh dan berkembang

7. mencapai standar yang tinggi

8. menggunakan penilaian yang autentik

Jika hal tersebut dilakukan, pembelajaran akan menjadi ”mengalir” dan bermakna. Nilai-nilai agama akan menjadi kebutuhan bukan kewajiban atau pemaksaan.

Dalam hal penyiasatan materi yang sedemikian banyak dengan jatah waktu yang 2 jam sepekan, guru dapat secara kreatif memanfaatkan sarana-sarana kegiatan sekolah termasuk kegiatan mata pelajaran lainnya sebagaimana terlihat dalam tabel 1. Dalam tabel 1 ditampilkan satu contoh kompetensi dasar mata ajar agama kelas X jenjang SMA sebagai berikut :

Tabel 1. Contoh Pengaitan Pelajaran Agama dengan Kegiatan Lain

Standar Kompetensi


Kompetensi Dasar


Pengaitan dengan Kegiatan lain


Instrumen Penilaian

Membiasakan perilaku terpuji


Menjelaskan pengertian adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu, dan atau menerima tamu


Kegiatan Siswa di rumah

Kegiatan siswa sebagai tamu

Kegiatan siswa dalam penerapan tata tertib sekolah

Kegiatan siswa saat perjalanan (mis. Karyawisata, berangkat ke sekolah, menuju temoat kursus dll)


Tugas individu

Tugas berkelompok

Dengan bentuk instrumen : uaraian bebas




Menampilkan contoh-contoh adab dalam berpakaian, berhias, perjalanan, bertamu dan atau menerima tamu


Tugas individu

Bentuk instrumen : lembar pengamatan antarsiswa dan lembar pengamatan guru

Salah satu hal penting pula yang dapat dimanfaatkan guru sebagai bentuk penerapan nilai-nilai pembelajaran agama yang dapat membentuk watak siswa adalah penggunaan wadah organisasi kerohanian yang ada di sekolah seperti rohani Islam. Penggunaan bukan sekadar konvensional yang selama ini berjalan yakni ada kegiatan keagamaan dalam bentuk syiar-syiar semata. Yang diperlukan adalah adanya pemikiran untuk selalu mengaktifkan kegiatan secara rutin pembinaan akhlak dan ibadah siswa baik atas nama kerohanian di sekolah maupun sekolah itu sendiri. Ini adalah penerapan CTL yakni siswa dilibatkan dalam agen perubah baik untuk dirinya maupun untuk kawan-kawannya.

Guru agama melakukan pengontrolan terhadap pencapaian aktivitas pembinaan secara rutin tersebut karena ”Allah SWT tidak akan mengubah suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mau mengubahnya.” Pengontrolan untuk mengecek sejauhmana kompetensi dasar pendidikan agama tercapai dan sejauh mana watak peserta didik mengalami perbaikan atau kemajuan.

Ikhtiar

Sekali lagi, tanggung jawab pembentukan watak bukan semata urusan pembelajaran agama di sekolah. Ia merupakan tanggung jawab bersama. Guru agama dapat menjadi motor penggeraknya. Sekolah menjadi laboratorium persemaian tumbuhnya watak secara egaliter, dan siswa sebagai pelakunya. Semua digerakkan secara bermakna dan mengasyikkan. Semua aktivitas tersebut merupakan bentuk ikhtiar bersama. Semoga dengan begitu, pembelajaran agama tampil sebagai pembelajaran yang mampu berkontribusi kuat dalam melahirkan peserta didik yang berwatak sesuai dengan amanah UU SPN.

Artikel:
Relevansi Pendidikan Agama Di Sekolah

Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan.
Nama & E-mail (Penulis): Yuyun Qomari P.
Saya Mahasiswa di Sosiologi UNAIR
Tanggal: 22 Maret 2003
Judul Artikel: Relevansi Pendidikan Agama Di Sekolah

Artikel:

RUU Sisdiknas yang akan disahkan menjadi UU Sisdiknas mendapat banyak catatan kritis dari berbagai pihak yang peduli dengan pendidikan di negara kita. Salah satu aspek yang menjadi sorotan adalah masalah penekanan pada pendidikan agama dan ketaqwaan yang diberikan porsi terlalu basar, karena hal itu dikhawatirkan akan mereduksi hakekat dan tujuan pendidikan itu sendiri. Memang, tujuan pendidikan lebih luas dan kompleks ketimbang hanya pembelajaran agama.

Pada konteks saat ini, dimana kesetaraan, penghargaan terhadap HAM, dan kesadaran terhadap pluralitas masyarakat menjadi tuntutan, maka pertanyaan yang timbul adalah masih relevankah pengajaran agama pada lembaga pendidikan? Padahal kita tidak bisa menutup mata dari kenyataan bahwa pembelajaran agama di sekolah justru melahirkan individu-individu yang sempit, yang hanya mau menerima kebenaran moral dari agamanya, yang menjadikan agamanya sebagai patokan tertinggi kebenaran dan pada gilirannya tidak mau menerima dimensi-dimensi kebenaran dari agama lain. Kita juga sulit mengelak ketika agama dinyatakan sebagai determinan pemecah-belah masyarakat menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan. Penulis melihat bahwa pendidikan agama hanyalah sebuah indoktrinasi yang tidak mengajarkan peserta didik untuk berpikir kritis.
Para pemuka agama dan guru-guru agama seharusnya malu ketika melihat begitu mudahnya kerusuhan massa terjadi begitu isu agama dihembuskan. Masyarakat kita menerima nilai-nilai agama melalui sosialisasi yang dilakukan para pemimpin dan guru-guru agama tanpa melihat konteks yang plural, akibatnya begitu satu agama bersinggungan dengan agama lain gejolak mudah sekali terjadi, bagaimana pemahaman agama hanya menumbuhkan balas dendam bukannya mencintai sesama manusia.

Pembelajaran agama kerap kali mencerabut individu dari lingkungannya, peserta didik diajarkan bahwa orang seagama adalah saudara, padahal dalam kehidupan sehari-hari peserta didik bukan hanya bergaul dengan orang seagama, bagaimana posisi orang yang tidak seagama? Tentu saja ini hanyalah sebuah contoh kecil dan masih banyak contoh lain yang tidak menunjukkan relevansi pendidikan agama. Membebankan pembelajaran agama pada lembaga pendidikan juga rawan terhadap politisasi agama dimana agama hanya sebagai alat mempertahankan kekuasaan dengan melegitimasi kekuasaan melalui nilai-nilai keagamaan. Saat ini bukan pembenahan pembelajaran agama yang perlu diperhatikan tetapi merekonstruksi tujuan pendidikan secara menyeluruh. Memang, etika dan moral adalah hal penting yang harus menjadi perhatian dalam muatan pendidikan, tentu saja etika yang menghargai pluralitas masyarakat, penghargaan terhadap hak asasi manusia, membentuk berpikir kritis terhadap sistem yang menindas, serta kontekstual dengan kehidupan sehari-hari masyarakat kita. Kalau mau konsisten dengan tujuan pendidikan untuk mencerdaskan bangsa maka pendidikan juga harus dibebaskan dari indoktrinasi yang pada akhirnya hanya menghasilkan truth claim serta membunuh pikiran-pikiran cerdas dan kritis.

Penulis agaknya sepakat dengan apa yang diutarakan oleh Luthfi Assyaukanie (Kompas 15 Maret 2003) bahwa apa yang menjadi persoalan sebenarnya adalah kita terlalu membesar-besarkan peran pendidikan agama dalam membentuk moral bangsa. Padahal bagaimana korelasi kedua hal tersebut masih belum dapat dibuktikan, bahkan saat ini menunjukkan kenyataan yang berkebalikan. Adalah ironis bahwa Indonesia adalah negara beragama yang menekankan pendidikan agama dalam sistem pendidikannya tetapi masuk dalam kategori negara terkorup. Para pemimpin kita tak diragukan lagi pehamannya terhadap nilai-nilai agama, tetapi perilaku yang ditunjukkan sangat jauh menyimpang dari nilai-nilai yang dicita-citakan tersebut.

Kelompok fundamentalis Islam menyatakan bahwa kegagalan pengajaran agama membentuk moral di Indonesia adalah karena agama yang disampaikan dalam pendidikan saat ini telah jauh melenceng dari jalan yang benar seperti yang disampaikan oleh Allah dan Rasulnya, karena itu meskipun Indonesia memiliki jumlah umat Islam terbesar tetapi memiliki moral terburuk. Anggapan ini sebenarnya tak lebih dari ungkapan frustasi melihat gagalnya pengajaran agama di lembaga pendidikan. Betapa tidak, cobalah kita berkaca pada negara lain yang lebih sekular, ternyata tata kehidupan mereka lebih tidak korup, lebih bersih dan ber-etika.

Tidaklah berlebihan apa yang diungkapkan oleh Luthfi Assyaukanie bahwa kita tidak bisa membesar-besarkan peran pendidikan agama dalam masalah moralitas dan etika. Masalah moralitas dan etika seharusnya bukan hanya termuat pada pelajaran agama saja tetapi pada semua mata pelajaran, mata pelajaran agama seharusnya menjadi mata pelajaran pilihan saja yang boleh diambil atau tidak oleh peserta didik. Penulis berpendapat bahwa agama adalah wilayah privat, karena itu pembelajaran agama seharusnya menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Kalau kita benar-benar ingin mewujudkan tata kehidupan yang demokratis maka mestinya kebebasan yang dimiliki masyarakat bukan hanya kebabasan untuk memilih agama tetapi juga kebebasan untuk tidak memilih agama.

RUU sisdiknas yang diusulkan oleh DPR dalam salah satu pasalnya menyebutkan "setiap peserta didik berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya...." Seharusnya diubah diperluas dengan menyebutkan bahwa peserta didik berhak untuk memilih mangambil atau tidak palajaran agama di suatu lembaga pendidikan, begitu juga lembaga pendidikan tidak harus menawarkan pelajaran agama.

Sudah saatnya lembaga pendidikan mejadi sebuah lembaga yang membebaskan. Membebaskan masyarakat dari sistem yang menindas, membebaskan manusia dari doktrin yang justru mencabut dirinya dari realitas. Penulis tidak bermaksud untuk merendahkan peran dan posisi agama dalam kehidupan masyarakat, tetapi paling tidak menggugah kita untuk merefleksikan kembali apa yang kita harapkan dan apa yang kita dapatkan dari pembelajaran agama selama ini, dan pada gilirannya kita dapat menimbang apakah mewajibkan pendidikan agama pada lembaga pendidikan (sekolah) masih relevan?
(*) Penulis adalah mahasiswa sosiologi Universitas Airlangga, Anggota komunitas Studi Sosial "Global Community" Sosiologi UNAIR

Saya Yuyun Qomari P. setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright).

CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

Pendidikan-DasarSekolah-MenengahPerguruan-TinggiCari-PekerjaanTeknologi&PendidikanPengembangan-Sekolah



Print Halaman Ini